Kelemahan dan Kebijakan Indonesia Menuju AFTA 2015

Kelemahan dan Kebijakan Indonesia Menuju AFTA 2015

Kelemahan dan Kebijakan Indonesia Menuju AFTA 2015

Beberapa zona perdagangan bebas di seluruh dunia saat ini sedang populer. Yang dekat dengan Indonesia adalah ASEAN Free Trade Area atau ASEAN Free Trade Area (AFTA). AFTA ini kemudian akan ditingkatkan menjadi Masyarakat Ekonomi ASEAN MEA pada tahun 2015.

 

A. Hanya Sebagai Pasar

Namun, tampaknya Indonesia belum siap untuk mengalami hal tersebut. Hingga saat ini, Indonesia masih menjadi pasar terbatas bagi produk-produk dari negara ASEAN lainnya. Pertama, karena jumlah penduduk Indonesia saat ini sebesar 231,3 juta jiwa merupakan 39% dari total penduduk ASEAN. Kelas menengah Indonesia saat ini berjumlah sekitar 100 juta orang. Ini tentu saja merupakan pasar yang menggiurkan bagi negara-negara ASEAN lainnya.

Kedua, produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini sebesar $846 miliar, juga menyumbang 40,3% dari total PDB negara-negara ASEAN. Ini juga merupakan indikasi pasar potensial terbesar.
Ketiga, masyarakat Indonesia kelas menengah ke atas sudah dikenal sebagai masyarakat konsumen. Hal ini dapat dilihat, misalnya, pada kenyataan bahwa rata-rata orang Indonesia memiliki lebih dari satu ponsel. Tidak seperti, misalnya, dengan orang Jepang yang terkenal dengan ketenangannya. Indikasi yang jelas dari Indonesia sebagai pasar saja adalah bahwa neraca perdagangan internasional Indonesia dengan negara-negara ASEAN selalu defisit sejak tahun 2005.

 

B. Kelemahan

Kelemahan Indonesia yang kalah bersaing dengan negara ASEAN adalah:

  • Pertama, Indonesia tidak bisa atau tidak mau mengolah sumber daya alamnya. Saat ini, 40% ekspor Indonesia berupa bahan baku yang terbuat dari sumber daya alam seperti batu bara, minyak nabati, gas, dan minyak bumi. Undang-undang baru yang melarang ekspor mineral mentah boleh jadi merupakan angin segar, namun harus didukung dengan modal dan teknologi tinggi untuk mengolahnya.
  • Kedua, sumber daya manusia Indonesia yang masih tergolong rendah kualitasnya, terutama tenaga ahli atau sarjana yang tepat (teknis) yang masih kurang. Ketiga, lemahnya infrastruktur Indonesia juga menciptakan ekonomi biaya tinggi untuk memproduksi barang dan jasa sehingga harga tidak dapat bersaing di pasar ASEAN. Sejauh ini, pengeluaran pemerintah untuk perluasan infrastruktur masih rendah.

Total belanja pemerintah APBN untuk infrastruktur hanya 2% dari PDB. Sementara Vietnam menghabiskan 8% dari PDB-nya untuk infrastruktur, bahkan China menghabiskan 10% dari PDB-nya untuk infrastruktur. Menurut ADB (2011), panjang jalan di Indonesia merupakan yang terpendek di ASEAN.

Di peringkat keempat, Indonesia jelas tertinggal di sektor jasa. Meskipun ASEAN Services Agreement (AFAS) diketahui, liberalisasi telah dibuka untuk profesi akuntan, dokter, dokter gigi, insinyur, perawat dan arsitek.

Kelima, sektor pertanian yang merupakan sektor potensial Indonesia telah ditinggalkan oleh berbagai kebijakan pemerintah. Sementara negara-negara ASEAN lainnya juga memiliki leading sector di sektor pertanian dan sedang serius mengembangkannya. Contohnya adalah Thailand dan Vietnam.

 

C. Politik Kebijakan

Berdasarkan permasalahan dan kelemahan Indonesia yang telah diuraikan di atas, maka dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: Pertama, Indonesia harus meningkatkan ekspor sebagian besar bahan mentah dari sumber daya alam hingga barang jadi. Kebijakan pelarangan ekspor bahan mentah memang merupakan hal yang baik. Namun, hal ini harus dibarengi dengan kebijakan pengembangan industri berteknologi tinggi dan padat modal untuk mengolah mineral tersebut.

Kedua, pengembangan sumber daya manusia harus tetap diutamakan. Pengembangan staf khusus untuk tenaga ahli teknis dan presisi harus diprioritaskan. Ketiga, belanja infrastruktur harus ditingkatkan. Jika negara tidak mampu melakukannya melalui anggaran negara, dapat memanfaatkan kerjasama dengan sektor swasta atau tindakan tanggung jawab sosial (CSR).

Keempat, peningkatan kualitas kerja di sektor jasa juga perlu mendapat perhatian serius, mengingat Indonesia tertinggal jauh dalam tenaga kerja dari negara-negara ASEAN lainnya. Sumber Rangkuman Terlengkap : https://www.seputarilmu.com/